Mungkin saya termasuk terlambat dalam membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Terlebih lagi saya dahulu pernah terpapar oleh berita tentang penarikan buku-buku Pram dari peredaran oleh karena isinya yang dianggap terlarang karena terlalu ‘kiri’ pada masa itu. Jadilah saya enggan membaca karya-karyanya dan memilih jalur aman dengan membaca buku-buku sastra yang saya tahu cara berpikirnya penulisnya cukup mainstream.
Sampai akhirnya saya menemukan ‘Bumi Manusia’ setelah sebelumnya saya dengar bahwa filmnya sukses diluncurkan. Maka di tahun 2026 ini saya mulai menekuni Pram lewat penuturannya. Saya sendiri belum selesai membaca buku ini, namun seorang karakter di dalamnya menarik perhatian saya.
Dialah Nyai Ontosoroh, seorang wanita setengah baya berparas cantik dari bumi Pasundan yang bersuamikan seorang Belanda totok, pengusaha yang berpengaruh namun entah kenapa justru tidak disukai di dalam rumahnya sendiri. Nyai mempunyai anak perempuan bernama Annelies yang, sampai saat saya membaca buku ini, masih menjadi incaran Minke, si jagoan kita yang sesungguhnya. Namun sekarang ini saya sedang terpesona pada Nyai Ontosoroh dengan kutipannya yang, saya percaya, sangat terkenal.
Berbahagialah dia yang makan dari hasil keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.
Saya belajar apa dari kalimat Pram yang cemerlang yang keluar dari mulut Nyai itu? Bahwa kemandirian dalam pekerjaan adalah harga diri sejati seorang laki-laki. Dan bahwa berjalan sepenuhnya dalam hasil usahanya sendiri merupakan kado membanggakan yang bisa ia bagikan bagi keluarganya.
Sekian dulu. Nanti saya kabarkan lanjutannya setelah bukunya selesai dibaca.